Sehingga katanya, celah suhu itu tidak sama dengan suhu lapisan dalam yang merupakan suhu karet internal ban.
Katanya, wajar saja terdapat perbedaan antara nilai suhu yang diambil dari satu ban.
BACA JUGA:Tes MotoGP 2025: Marc Marquez Klaim GP25 Jauh Lebih Baik, Tapi Ada Masalah Baru!
"Jadi kami menganalisis semua data ini," jelasnya.
Ia berkesimpulan saat Martin meninggalkan paddock untuk lap terakhir sebelum kecelakaan, suhu bannya 15 derajat lebih rendah.
"Jadi 15 derajat itu sangat fatal, sangat banyak," tegasnya.
"Bahkan saat ia kecelakaan kami membandingkan suhu bannya dengan suhu ban belakang Marco Bezzecchi, karena motornya sama, waktu yang sama dengan ban belakang kompon medium, suhunya 15 derajat lebih rendah," paparnya.
Sebagai gambaran, Taramasso menjelaskan bahwa suhu lapisan dalam ban belakang biasanya antara 90-100 derajat.
Itu artinya, Michelin menilai suhu ban belakang motor Martin turun antara 15 sampai 16,6 persen.
BACA JUGA:Hasil Tes MotoGP 2025: Quartararo Tercepat Pakai M1, Marquez-GP25 Klik, Bagnaia Mengecewakan
Ia menegaskan kondisi lintasan juga buruk, lembab imbas hujan di malam hari.
"Parameter ini pasti, sangat besar, dikombinasikan dengan kondisi lintasan, sangat licin, berangin, lembab, suhunya hanya 30 derajat, di sini (Sepang) biasanya 50 derajat, imbas hujan semalaman.
"Jadi kondisinya buruk, bannya belum siap, itulah sebabnya kecelakaan itu terjadi," pungkasnya.
Tak berhenti di situ, Taramasso menyebut alasan Martin menggunakan ban tipe medium karena untuk menjaga ban tipe lunak.
Ia mengakui, dengan kondisi di Sepang, ban medium bukan pilihan terbaik.
Namun semua pembalap menggunakan ban medium untuk menyapu trek agar mendapat grip maksimal ketika menggunakan ban lunak.