Fakta menariknya Michelin sebagai pemasok tunggal ban di MotoGP, membawa ban spek khusus untuk sirkuit Mandalika.
Ban khusus ini memiliki area slide atau area yang menjadi tumpuan motor di tikungan, dengan kompon yang berbeda. Lebih karkas atau kaku.
Terakhir kali Bagnaia mengeluhkan soal guncangan pada GP25, akselerasi lemot, terjadi di GP Austria.
Ketika itu Michelin juga menyuplai tim-tim MotoGP dengan ban yang lebih kaku.
Bagnaia membenarkan, "Tepat sekali", di Mandalika, perasaan dia dengan motor mirip seperti di Red Bull Ring.
"Saya tidak bisa melakukan hard braking karena kehilangan kendali di bagian depan hampir di setiap tikungan," ungkap Bagnaia.
Di Red Bull Racing, dengan ban yang lebih kaku membuat roda belakang lebih banyak spin atau berputar karena tidak ada traksi.
"Saya tak bisa membuka gas karena motor saya akan berputar (spin) hebat. Saya tidak bisa berakselerasi dengan baik karena motornya bergetar hebat. Aneh sekali," jelasnya.
Bagnaia Frustasi Berat, Nyerah?
Frustasi yang ditunjukkan oleh seorang pembalap seperti Bagnaia bukan hal yang tabu.
Marc Marquez sudah pernah mengalaminya di Honda, bahkan lebih parah; motornya nggak bisa menikung mulus, terlalu liar di tikungan.
Itu masalah yang akhirnya membuat dia pergi demi ambisi besarnya; juara!
Namun memang yang dialami Bagnaia ini agak anomali.
Di Jepang dia membaik, tiba-tiba hanya selang sepekan di Mandalika, performanya terpuruk lagi.
Bagnaia menyebut bahwa ini sebuah keanehan, dan ia pun frustasi sekarang.
"Saya juga tidak bisa memahaminya," ucapnya.
"Ekspektasi saya datang ke sini dengan tujuan sama seperti di Motegi, karena memang benar di sana kami melakukan banyak hal pada motor.