Persepsi pembalap dinilai tidak pernah salah karena mereka menyampaikan apa yang benar-benar dirasakan. Tugas tim teknis adalah membangun “kamus” agar bahasa persepsi tersebut dapat diterjemahkan ke dalam data numerik.
“Jika apa yang dikatakan pembalap dan data yang Anda pahami cocok (‘match’), itu sempurna, karena Anda merasa sangat dekat dengan kenyataan. Itu berarti Anda telah memahami masalah dengan sangat baik.”
Ketika keduanya tidak selaras, tim dituntut untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
BACA JUGA:Yamaha Mulai Seleksi Ketat Pengganti Arai Agaska untuk R3 BLU CRU World Cup 2026
Lingkungan kerja di garasi Aprilia sendiri merupakan contoh kolaborasi multidisiplin yang intens, mulai dari spesialis ban, motor, elektronik, hingga strategi keseluruhan.
Semua keputusan dibahas secara kolektif dan real-time. Terkait teknologi, De Cia menyebut Kecerdasan Buatan sebagai topik penting yang harus digunakan secara tepat agar analisis menjadi lebih cepat dan efisien.
Berbekal pengalaman bekerja di Aprilia dan Suzuki, ia juga melihat perpaduan budaya Italia dan Jepang sebagai kekuatan, di mana metodologi terstruktur khas Jepang bertemu dengan pendekatan Eropa yang adaptif dan inovatif.
Pada akhirnya, kesuksesan MotoGP adalah harmoni antara data presisi, teknologi mutakhir, dan kemampuan menerjemahkan indera manusia di atas motor.