MOTORACE.ID --- Pembalap Red Bull KTM Factory, Pedro Acosta, mengungkapkan pandangan menarik mengenai hubungan antarpembalap di paddock MotoGP.
Rider asal Spanyol tersebut mengaku tidak ingin memiliki teman dekat di lingkaran persaingan karena setiap pembalap memiliki ambisi yang sama untuk menjadi yang terbaik.
Bagi Acosta, menjaga jarak secara emosional justru dapat membantunya membangun mental bertarung yang lebih kuat ketika harus menghadapi rival di lintasan.
Ia bahkan menilai rivalitas sengit menjadi salah satu elemen penting yang membuat persaingan MotoGP semakin menarik bagi penonton.
BACA JUGA:Marc Marquez Tinggal Selangkah, Kemenangan ke-77 Diburu di MotoGP Aragon 2026
BACA JUGA:Semarak Anniversary Komunitas Honda ADV Bogor Raya, Dari CSR hingga Puluhan Hadiah untuk Bikers
Marc Marquez dan Pedro Acosta--MotoGP
Acosta Lebih Memilih Rivalitas Ketimbang Pertemanan
Menurut Acosta, hubungan antarpembalap memang relatif mudah terjalin karena mereka dapat berbincang dan berinteraksi di paddock.
Namun, situasinya berbeda ketika seluruh pembalap memiliki tujuan yang sama, sehingga ia merasa hubungan yang benar-benar dekat justru berpotensi memengaruhi sikap ketika berkompetisi.
“Untungnya di MotoGP, cukup mudah untuk mengobrol dan menjalin hubungan dengan hampir semua pembalap. Namun pada akhirnya, semua orang di sini mengejar impian yang sama, “ucap Pedro Acosta kepada Motorsport.com.
“Dan menurut saya, cukup sulit untuk menjalin hubungan yang jujur dengan seseorang yang menginginkan hal yang bertahan sama dengan kamu. Sejujurnya, mungkin saya lebih memilih mundur selangkah dan tidak menjalin hubungan apapun. Saya merasa bahwa sejak hari pertama, saya tidak punya teman di paddock, “tambah Pedro Acosta yang musim depan akan berada di tim Ducati bersama Marc Marquez.
BACA JUGA:Nicolo Bulega Kembali Turun di Misano Pekan Depan, Ducati Kejar Data Penting untuk Proyek 850cc
Mental Bertarung Jadi Prioritas
Acosta menilai rivalitas justru bisa menghadirkan atmosfer kompetisi yang lebih menarik. Ia merujuk pada sejumlah persaingan besar dalam sejarah MotoGP, termasuk era Mick Doohan dan Alex Criville serta rivalitas Valentino Rossi dengan Marc Marquez maupun Jorge Lorenzo.
Bagi pembalap yang masih berusia 22 tahun tersebut, tidak terlalu dekat dengan rival membuatnya lebih leluasa ketika berada di lintasan. Ia tidak ingin memikirkan perasaan pembalap lain ketika harus melakukan manuver keras demi meraih posisi terbaik.