22 Seri MotoGP Dinilai Terlalu Melelahkan, Para Pembalap Angkat Suara soal Beban Fisik dan Mental
Launching MotoGP 2025 di Bangkok, Thailand--Motorsport
MOTORACE.ID -- Faktanya, kalender MotoGP saat ini memang sangat padat. Banyak seri balapan yang hanya berjarak satu minggu.
Artinya, setelah balapan Sabtu–Minggu, para pembalap harus kembali menjalani persiapan pada Rabu–Kamis, dilanjutkan latihan bebas pada Jumat, hingga kembali balapan di akhir pekan berikutnya.
Pola ini berlangsung hampir sepanjang musim dan menuntut konsistensi fisik serta mental yang sangat tinggi.
Situasi tersebut memicu keluhan dari sejumlah pembalap MotoGP terkait total 22 seri balapan dalam satu musim.
BACA JUGA:Ketika Kemenangan Tak Disambut Meriah, Mugello dan Luka Emosional Ducati MotoGP
BACA JUGA:Alberto Vergani Sebut Toprak Razgatlioglu Sebagai 'Casey Stoner 2.0'

MotoGP 2025--MotoGP
Demikian dilansir dari Motorsport.com. Fabio Di Giannantonio dari Pertamina Enduro VR46 menilai jumlah balapan sudah melampaui batas kewajaran.
“Terlalu banyak (balapan). Terlalu banyak hari di perjalanan, terlalu banyak untuk tubuh. Ada 44 kali balapan, (itu) terlalu banyak. Kamu banyak berlatih dalam satu bulan, katakanlah, di bulan Januari, dan kemudian kamu hanya berusaha menjaga performa sebaik mungkin sepanjang musim. Sangat normal jika kondisi fisik kamu sedikit menurun. Tapi untuk itulah kami dibayar, jadi kami harus melakukannya.”
Johann Zarco dari LCR Honda juga merasakan dampak langsung dari padatnya kalender.
“Kami bisa merasakan ada beban dari 22 balapan. Tubuh ini agak kesulitan. Kami akan membutuhkan lebih banyak istirahat (di musim dingin) untuk kembali dengan energi yang lebih baik. Jadi mungkin kami mencapai akhir pekan dengan 70 persen atau 80 persen energi, bukan 100 persen.”
BACA JUGA:Wawan Tembong Amankan Podium Tertinggi Tolak Miskin Championship Kelas Bebek 4T TU 130cc ExRider
Hal senada diungkapkan Marco Bezzecchi dari Aprilia Racing. “Sulit untuk menjalani 22 balapan dengan motor, 44 kali balapan termasuk dengan sprint. Jadi secara fisik itu sulit, juga secara mental.”
- Tag
- Share
-