Mantan Direktur Teknik Red Bull KTM MotoGP, Fabiano Sterlacchini--Motorsport
Nahkoda yang Menentukan Arah Kapal
Perjalanan berlanjut ke KTM dalam periode yang relatif singkat, tetapi krusial dalam membentuk gaya kepemimpinannya.
Perpisahan dengan pabrikan Austria tersebut tidak semata dipicu persoalan teknis, melainkan perbedaan mendasar dalam visi strategis. Sterlacchini menegaskan filosofi kepemimpinannya melalui analogi yang lugas.
“Jika saya berada di puncak proyek, saya yang memutuskan ke mana kapal akan berlayar,” tegas Sterlacchini.
“Jika seseorang datang dan menyuruh saya untuk berbelok, saya katakan: ‘Anda ambil alih kemudi, dan saya pergi.’ Begitulah cara kerjanya.”
BACA JUGA:Yamaha Mulai Seleksi Ketat Pengganti Arai Agaska untuk R3 BLU CRU World Cup 2026
Pembalap Aprilia Racing MotoGP, Marco Bezzecchi--Michelin Motorsport
Visi di Balik Tantangan Aprilia
Pernyataan ini menegaskan bahwa tanggung jawab penuh harus sejalan dengan otoritas penuh dalam menentukan arah proyek.
Prinsip tersebut ia bawa ke Aprilia saat menerima tawaran dari CEO Massimo Rivola. Kondisi awal di Noale ditandai oleh keharusan memahami motor baru, hilangnya data historis dari pembalap utama yang hengkang, serta keterbatasan referensi teknis.
Banyak pihak menilai situasi ini berisiko tinggi, tetapi Sterlacchini melihat potensi yang berbeda.
“Kemampuan dalam pekerjaan kami… bukan hanya melihat apa yang ada di depan mata, tetapi untuk memperkirakan potensi dari apa yang Anda lihat,” jelasnya.
Ia menilai kualitas sumber daya manusia Aprilia sebagai modal utama, mengakui pencapaian “level yang cukup baik” di musim 2025, sembari menegaskan bahwa mentalitas pemenang tidak memberi ruang untuk puas.
“Di balapan, hanya ada satu hasil yang harus dituju,” pungkasnya, menegaskan bahwa di bawah komandonya, Aprilia hanya mengincar posisi teratas di kejuaraan dunia.