Bagnaia mengakui itu. "Meskipun saya tak memaksakan motor ini melaju cepat, ban belakang saya tetap aus."
Juara dunia MotoGP dua kali ini menegaskan, dengan situasi tersebut ia tak bisa mengambil banyak risiko.
BACA JUGA:Helm Arai RX-7X Nagashima, Penghormatan Hidup untuk Shoya Tomizawa di Lintasan MotoGP
"Dua lap terakhir saya benar-benar ada di ambang batas kemampuan, berisiko mengalami kecelakaan hanya dengan memiringkan motor ke sisi kanan. Jadi posisinya cukup sulit kala itu," terangnya.
Bagnaia membandingkan masalah ini persis seperti yang dialami di dua balapan sebelumnya, di Thailand dan Goiania.
"Perbedaannya dibanding dengan Goiania adalah saya mulai dari depan dan punya pace yang bagus saat Sprint Race," kata dia.
Keanehan terbesarnya adalah masalah ban belakang ini muncul pada saat balapan paling penting di hari Ahad.
"Saya tidak bisa memacu motor ini seperti apa yang saya inginkan," jelasnya.
Ia menambahkan, satu-satunya cara yang dilakukan hanyalah bertahan sepanjang balapan.
Kendati begitu, tetap saja Bagnaia mengalami degradasi ban paling buruk sejak tiga balapan terakhir.
"Di lap terakhir, bahkan Luca Marini bisa menyalip saya dari sisi luar. Saya tidak bisa berbuat banyak," keluhnya.
"Combi Brake GP26"
Poin utamanya menurut Bagnaia adalah GP26 sangat terpaku pada pengereman belakang.
Hal ini, kata dia, situasi paling aneh yang pernah dia alami di MotoGP.
"Konsumsi bahan bakar dari belakang itu sangat aneh. Menurut saya, dengan motor ini kami harus masuk tikungan mengandalkan ban belakang.
Ia menjelaskan bahwa GP26 tidak punya pengereman yang benar-benar mumpuni.
Seharusnya ia hanya butuh pengereman roda depan namun ada dorongan terlalu besar ke bagian depan.